Sabtu, 12 Maret 2011

You

Menapaki kerikil tajam


Ketika perih menyatu


menyebrangi ironi


melintasi nyata rasaku


kulihat bayang di derasnya aliran sungai


hanya keruh berlumpur


percikannya berbaur dengan air mata


berbalut ranting kering tak berdahan


cap tangan bernoktah darah


lirikan tajam dan kosong


menerawang tingginya awan yang tak mungkin didapati


angan melambai tercabik ratapan hujan.


namun. . .


saat pelita malam memanggil


dibalik gelapnya


SENYUMMU MENGHIDUPKANKU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar