Menapaki kerikil tajam
Ketika perih menyatu
menyebrangi ironi
melintasi nyata rasaku
kulihat bayang di derasnya aliran sungai
hanya keruh berlumpur
percikannya berbaur dengan air mata
berbalut ranting kering tak berdahan
cap tangan bernoktah darah
lirikan tajam dan kosong
menerawang tingginya awan yang tak mungkin didapati
angan melambai tercabik ratapan hujan.
namun. . .
saat pelita malam memanggil
dibalik gelapnya
SENYUMMU MENGHIDUPKANKU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar